Senin, 17 Oktober 2011

catatan untuk sang ayah


Catatan untuk sang ayah
          Penyakit yang datang kurang lebih satu tahun silam yang menimpa papi, Eka Franedi tepatnya beberapa waktu setelah bulan ramadhan dan lebaran iddul fitri pada tahun 2010 berlalu. Masih teringat didalam benakku, saat-saat ditemani oleh papi ketika mendaftarkan diri untuk registrasi ulang dikampus Universitas Padjadjaran pada Fakultas Ilmu Komuikasi. Sang ayah memberikan semangat dan dukungan untuk apapun hal yang aku inginkan.
            STROKE… adalah penyakit yang pada akhirnya merenggut nyawa ayahku. Penyakit yang dideritanya kurang dari satu tahun ini, datang dengan tidak disangka-sangka. Sekejap merenggut kebahagiaan, kesejahteraan dan perannya dalam keluarga sebagai tulang punggung yang berupaya keras untuk keluarganya. Setiap orang pasti tidak ada yang mengharapkan penyakit untuk datang kepadanya. Tetapi penyakit datang dengan sendirinya sebagaimana sudah ditakdirkan oleh ALLAH dan sudah menjadi ketetapannya dilauhul’mahfuz.
            Umur papi yang begitu singkat seakan tidak sebanding dengan apa yang ia dapat dan ia perjuangkan semasa hidupnya. Selama 47 tahun papi hidup didunia, sedari kecil orang tuanya menyekolahkannya dengan segala keterbatasan dan ketidakmampuan yang dialami keluarga papi saya sewaktu papi bersekolah. Dengan beasiswa STAN dia berhasil lulus dan mulai meniti karir didalam hidupnya. Denga bermodalkan otak dan ijazah dari Sekolah Tinggi Akuntansi Negara ayahku bekerja keras untuk mencapai kehidupan yang lebih baik.
            Namun kehidupan keluarga kami tidak berjalan serta-merta dengan mulus. Ibarat sebuah roda yang berputar, itulah kehidupan keluargaku. Terkadang jatuh bangun, susah senang, dan kebahagiaan yang kami dapatkan diwaktu itu ketika papi masih ada.
            setelah aku beranjak memasuki jenjang perguruan tinggi, barulah papi terserang penyakit stroke. Tepat setelah satu bulan lebih saya memulai perkuliahan dikampus setelah bulan ramadhan berlalu. Beliau terserang penyakit stroke untuk pertamakalinya. Saat melihat dirinya terbaring tak berdaya dirumah sakit, hati yang begitu kuat ini terenyuh seketika dan meneteskan air mata karena melihat orang yang selama ini menjadi penyemangat keluargaku kini terbaring tak berdaya dirumah sakit.
            Tiga bulan lamanya papi tidak dapat beraktifitas karena penyakitnya. Ketika memasuki bulan keempat, barulah ia mulai berjalan dan melakukan aktifitas semampunya. Bulan keempat tepatnya dipenghujung tahun 2010. Memasuki awal tahun 2011, dan bulan kedua papi telah beraktifitas dikantornya. Waktu yang cukup singkat untuk seseorang yang terkena penyakit stroke untuk kembali beranjak sembuh meskipun tidak pulih sempurna.
            Papi eka memang seorang pekerja keras dan memiliki kemauan yang kuat untuk bangkit. Satu hal yang selalu saya ingat darinya…dia adalah seorang pejuang yang bersikeras berusaha mendapatkan apa yang dikehendakinya. Dia selalu berkata “jangan menunda pekerjaan baik”. Sekecil apapun perbuatan itu. Dan dia selalu berusaha berupaya untuk bangkit. Bangkit dari keterpurukan...dan berkemauan keras. Karena tidak ada gunanya kalau terus terlarut dalam keterpurukan, kesengsaraan, dan penderitaan yang dialami.
            Itu yang selalu ada difikiran papi dan hal itu juga yang membuat dirinya dapat mengatasi dan melawan penyakitnya dalam waktu yang terhitung cukup singkat. Semangat dan ikhtiarnya yang semaksimal mungkin…seterusnya terserah allah yang menentukan, lillahita’ala….
            Awal tahun 2011 papi memulai pekerjaan nya dengan memikul penyakit stroke. Beban yang cukup berat ditanggung oleh sang ayah untuk berjuang keras menafkahi keluarganya dengan berusaha semaksimal mungkin melawan penyakitnya dan terus berusaha bangkit untuk mencapai kehidupan yang lebih baik.
            Tibalah dipenghujung bulan Mei 2011, dan memasuki awal bulan juni. Pada awal bulan juni 2011, papi kembali terserang stroke untuk yang kedua kalinya. Saat ini lebih parah dari saat pertama ia terserang stroke. Dan fatal akibatnya karena penyakit stroke yang menyerang papi untuk kedua kalinya inilah yang menjadi penyebab (asbab) kematian papi.
            Tidak ada yang bisa membelokan ketetapan tuhan. Ketika allah menakdirkan papi yang berusia 47 tahun meninggal pada usia tersebut, maka tidak satupun yang bisa mengelak dari takdir allah. Penyakit itu hanyalah sebuah asbab yang menjadi perantara kematian papi, melalui kesalahan dalam pemberian obat yang diberikan oleh dokter dirumah sakit. Namun sudah menjadi takdir dan ketetapan allah bahwa pada usia 47 tahun papi terserang stroke dan meninggal karenanya.
            Namun semangatnya untuk bangkit pada saat itu cukup besar. Ketika papi terkena penyakit stroke yang kedua kali setelah pulang rapat dari kantornya. Semangat didalam dirinya tersebut membuat papi bertahan hidup sedikit lebih lama untuk melawan penyakitnya yang semakin parah dan tidak bisa dikendalikan. Keadaan tubuh yang kejang-kejang dan tak ada yang bisa mengendalikannya. Semangatnya sangat besar….
           

Setelah 20 hari terserang stroke yang kedua kali tersebut, papi merasa sudah cukup dan tidak ada perkembangan akan dirinya yang tak berdaya melawan penyakitnya. Papi dipulangkan kerumah nenek, rumah orang tuanya, tempat ia dibesarkan sedari kecil. Hari pertama papi pulang kerumah nenek, papi dirawat dirumah nenek. Waktunya cukup singkat…hanya tiga hari dari ia dipulangkan dari rumah sakit, dan kemudian kematian menjemput papi yang sedang terserang penyakit stroke.
Hari kedua dirumah nenek, papi diterapi kembali, itu sebagai wujud dari ikhtiar para keluarga untuk kesembuhan papi. Seluruh keluarga berusaha semaksimal mungkin mencoba apa yang bisa dicoba untuk tercapainya kesembuhan papi. Tibalah dihari ketiga…hari dimana kematian menjemput nyawa sang ayah yang selama ini berkorban untuk keluarganya, bekerja keras, menjadi tulang punggung keluarga, menafkahi keluarga. Tepat setelah shalat isya’ (ba’da isya) tepatnya pukul 19.30 wib. disaat papi mau diterapi akupunktur, sang dokter yang menemukan papi yang sudah tidak berdenyut dan tidak menghembuskan nafas. Barulah seluruh keluarga menyadari kepergian papi. Kematian yang begitu tenang menghampirinya…
Sungguh penyesalan karena disaat papi menghembuskan nafas untuk yang terakhir kalinya, saya sebagai anak yang paling diharapkan olehnya tidak ada disampingnya untuk melepas kepergian papi, karena pada waktu itu saya sedang menjalankan aktifitas kampus diJatinangor, jawa barat.
Waktu yang tidak terasa, bahkan begitu singkat bagi saya untuk kepergian sang ayah. Tidak sempat untuk memohon maaf kepadanya…belum sempat berbakti kepada sang ayah…dan tidak bisa menepati janjinya untuk melihat saya, sang anak yang menjadi apa yang ia harapkan dimasa depan. Cukuplah segala apa yang telah diajarkan oleh ayahku, apa yang selalu ditanamkan kepada keluarganya. Segala hal yang bermanfaat yang selalu diingatkan dan disampaikan kepada saya. Cukuplah segala apa usahanya selama ini, hal yang diberikan papi kepadaku untuk menjadi bekal hidup dimasa mendatang….dunia dan akhirat…
Untuk sang ayah….Eka Franedi yang telah wafat pada hari rabu, 6 juli 2011 ba’da shalat isya’

1 komentar:

  1. fif.. :') strong ya, gue juga merasakan kok kehilangan, semangat meraih cita2 yaaa :)

    BalasHapus